120 Program Studi Baru akan dibuka pada Tahun 2019

Berbagai kebijakan baru telah ditetapkan oleh Kemenristekdikti. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) diantaranya telah menetapkan kebijakan baru terkait Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 2019.

Kebijakan tersebut terkait pengembangan model dan proses seleksi yang berstandar nasional dan mengacu pada prinsip adil, transparan, fleksibel, efisien, akuntabel serta sesuai perkembangan teknologi informasi di era digital.

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi Mohamad Nasir dalam konferensi pers Seleksi Masuk Perguruan Tinggi negeri 2019 di Jakarta, Senin (22/10/2018) menyatakan terdapat sejumlah ketentuan baru yang berbeda dari tahun sebelumnya, termasuk sistem tes yang dilakukan sebelum peserta mendaftar ke PTN.

Selain itu sebanyak 120 program studi baru yang relevan dengan perkembangan zaman siap dibuka. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memastikan akan mempercepat proses pemberian izinnya sehingga bisa dimanfaatkan pada penerimaan mahasiswa baru 2019.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan, pengajuan perizinan untuk nama program studi bisa selesai dalam waktu seminggu.

Menurut dia, program studi yang akan dibuka disesuaikan dengan tujuan pembangunan jangka panjang terutama yang masuk dalam bidang science, technology, enggineering, matemathics (STEM).

Menurut Patdono Suwignjo pada hari Senin tanggal 29 Oktober 2018, pihaknya akan mengumpulkan serta menginstruksikan semua staf di Kemenristedikti terkait perubahan dan percepatan dalam pemberian izin program studi baru. Sehingga, 120 program studi yang kini tengah diproses pun bisa segera rampung. Jadi, izin-izin nama program studi itu bisa satu minggu selesai.

Dia mengimbau kepada semua perguruan tinggi yang hendak mengajukan program studi baru agar memastikan semua persyaratan terkumpul.

Ia menegaskan, kendati mengutamakan bidang STEM, kampus yang ingin membuka program studi bidang ilmu sosial humaniora juga akan dipertimbangkan.

“Banyak juga yang mengajukan program studi soshum itu tidak apa-apa,” ujarnya. Ia menjelaskan, dalam menghadapi era revolusi digital, semua kampus dituntut responsif dan inovatif. Perubahan yang cepat termasuk merevitalisasi program studi. Ia mengajak semua kampus untuk berani membuka program studi yang sebelumnya tak pernah diperkirakan.

“Seperti Universitas Indonesia membuka program studi Teknik Biomedik dan Akturia, Universitas Padjajaran membuka prodi Akturia dan Bisnis Digital,” katanya.

Selanjutnya Menristekdikti Mohamad Nasir menegaskan, program studi baru harus visioner dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, program studi baru harus sejalan dengan tantangan yang akan dihadapi para lulusan pendidikan tinggi di era revolusi industri 4.0.

Menurutnya, dalam empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, tak kurang 100 program studi baru sudah dibuka.

Program studi ini merupakan bagian dari upaya Kemenristekdikti menyiapkan sumber daya manusia berdaya saing global.“Presiden selalu mengingatkan agar mengembangkan program studi yang mengikuti perkembangan zaman. Tidak lagi program studi seperti masa dulu yang konvensional,” ucap Mohamad Nasir.

Ia mencontohkan, ada beberapa perguruan tinggi yang memiliki program studi Animasi dan Komunikasi Visual. Dua program studi tersebut akan sangat berfungsi bagi generasi masa depan. “program studi ini kaitannya dari sistem informasi, diubah menjadi konsentrasi atau peregangan multimedia, kartun atau animasi. Ini sudah dilakukan,” katanya.

Selain itu, akan ada program studi Rekayasa Transportasi Laut, Bisnis Musik, maupun Manajemen Inovasi. program studi baru selanjutnya seperti Pengolahan Kopi yang dirintis Universitas Gajah Putih (UGP) Aceh. Prodi Film yang diusung oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN), dan Prodi Teknologi dan Kertas yang didirikan oleh Universitas Riau (UNRI/UR).

Sumber:
– ristekdikti.go.id
– Pikiran Rakyat

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *